Pengalaman Vaksin Sinovac Dosis Pertama

oleh Rainbow Daily
Pengalaman Vaksin Sinovac Dosis Pertama

Nggak ada lagi alasan untuk nggak bersyukur kepada-Nya. Sungguh, di masa nggak menentu ini aku hanya bisa berusaha menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang-orang terdekat, kecuali mereka yang masih menghamba dengan hoax. Kali ini aku akan berbagi pengalaman mendapat vaksin Sinovac dosis pertama. Siapa tahu, kamu sedang mencari informasi seputar vaksin Sinovac.

Kebetulan bulan lalu aku masih menjadi guru di salah satu sekolah di Banjarnegara. Fyi, saat itu tenaga pendidik masuk dalam skala prioritas penerima vaksin. Jadi, alhamdulillah banget, kami bisa mendaftar ke Puskesmas terdekat untuk menjadwalkan vaksin Covid-19.

Apa itu Vaksin?

Menurut Wikipedia, Vaksin adalah sediaan biologis yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan adaptif terhadap penyakit infeksi tertentu. Singkatnya, tubuh kita disuntik mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan/dimatikan. Fungsinya adalah supaya tubuh kita nggak kaget dan sudah mengenali mikroorganisme tersebut.

Nah, karena pandemi Covid-19 makin merajalela di Indonesia. Pemerintah menyediakan beberapa merek vaksin Covid-19. Salah satunya Sinovac yang sudah mendapat izin penggunaan darurat (EUL) dari WHO. Berdasarkan hasil uji klinis, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan efikasi Sinovac sebesar 65,3 persen. Wes pokoknya ikhtiar, berusaha yang terbaik biar segera terbentuk herd immunity.

Dosis dan Interval Penyuntikan Vaksin Sinovac

Vaksin COVID-19 Sinovac memiliki dosis 0,5 ml per penyuntikan, dengan jarak penyuntikan pertama hingga kedua 28 hari pada dewasa berusia 18-59 tahun. Aku menerima dosis pertama pada 17 Juni 2021, jadi aku akan menerima dosis kedua pada tanggal 15 Juli 2021.

Fyi, untuk menerima dosis kedua dilakukan di tempat yang sama dengan dosis pertama, ya. Aku sudah berkali-kali mencari informasi mengenai penyuntikan dosis kedua di lokasi yang berbeda dengan dosis pertama. Tapi tetap nggak bisa, huhu. Jadi, jika kamu mendapat vaksin dosis pertama di Puskesmas A, otomatis dosis kedua juga harus di Puskesmas A. Kalau beda daerah, mesti dibela-belain balik lagi ke Puskesmas A, ya. Uhuk!

Langkah-langkah Vaksin di Puskesmas Terdekat

Langkah-langkah Vaksin di Puskesmas

Mungkin setiap Puskesmas memiliki kebijakan dan aturan sendiri terkait proses vaksin. Namun, secara umum prosedurnya mirip-mirip. Nah, berikut ini langkah-langkah melakukan vaksin Sinovac di Puskesmas setempat:

  1. Sebelum datang ke Puskesmas, ada baiknya mencari info (syarat dan ketentuan) pendaftaran vaksin terlebih dahulu. Kebetulan, kami mendaftar secara kolektif dan mendapat jadwal vaksin esok harinya.
  2. Jika jadwal vaksin sudah diinfokan, silakan datang ke Puskesmas dengan membawa KTP. Pastikan kondisi tubuh benar-benar fit.
  3. Isi kartu screening vaksin (berisi seputar riwayat penyakit). Kami juga dicek suhu tubuh dan cek tensi.
  4. Proses penyuntikan vaksin. Sama seperti imunisasi pada umumnya, kok. Setelah disuntik, petugas juga akan mengecek tensi darah lagi.
  5. Kami mendapat kartu vaksin yang berisi jenis vaksin, tanggal vaksin, dan dosis vaksin.
  6. Selanjutnya akan menerima SMS yang berisi sertifikat vaksin dosis pertama.

Efek Samping Setelah Vaksin Sinovac

Vaksin Sinovac

Jujur, sebelum vaksin aku sudah menyiapkan tubuhku dengan memperbanyak makan buah sayur, olahraga ringan, dan konsumsi vitamin. Harapannya begitu mendapat vaksin Sinovac tubuh nggak kaget dan tetap fit.

Hari pertama hingga hari keempat sehat dan nggak begitu terasa efek vaksinnya sih. Hanya saja di bagian lengan yang disuntik terasa nyeri. Sialnya, di hari kelima dan keenam aku terpaksa mengonsumsi paracetamol karena kepala terasa sangat pusing dan badan terasa pegal linu. Alhamdulillah, nggak demam dan efeknya hanya terasa dua hari itu.

Untuk efek lainnya seperti jadi mudah mengantuk dan lebih sering lapar memang aku alami. Seharian bisa tidur beberapa kali dan makan berat hingga 4-5 kali, padahal mah biasanya susah banget makan. Hehe

Yuk Sehat, Yuk! Saling Jaga Sesama dengan Vaksin

Buat apa vaksin kalau tetap bisa terinfeksi Covid-19?

Sini sini, aku ceritain. Jadi, hari ini adalah day ke 8 aku dan suami isoman alias isolasi mandiri karena terkonfirmasi positif Covid-19. Iya, di waktu menunggu vaksin dosis kedua, aku sudah positif Covid-19 duluan. Aku nggak bisa membayangkan jika tubuhku belum mendapat vaksin dosis pertama. Terlebih kondisi kesehatanku ringkih sekali, gampang mriyangan, punya riwayat asam lambung, tipes, dan vertigo.

Vaksin Sinovac

Namun, beruntungnya aku sudah mendapat vaksin meski baru dosis pertama karena tubuhku seenggaknya sudah mengenali virus ini. Jadi, efek Covid-19 yang aku rasakan tergolong ringan.

Vaksin tuh ibarat kita naik motor pakai helm. Meski naik motor menggunakan helm tetap bisa kecelakaan, kan? Tapi seenggaknya ada bagian yang terlindungi. Sama dengan vaksin. Meski sudah vaksin tetap bisa terinfeksi Covid-19. Namun gejalanya akan ringan karena tubuh sudah mengenali virus tersebut.

So, yang punya kesempatan untuk vaksin gas saja deh! Siapkan tubuh biar fit dan bismillah ikhtiar untuk berjuang hidup di tengah pandemi ini. Untuk cerita lengkap mengenai isolasi mandiri karena positif Covid-19, besok lusa akan aku tulis, ya. Insya Allah. Doakan kami semoga kami kuat dan kondisinya stabil hingga masa isoman selesai, ya! Yuk, sehat. Stay safe selalu untuk kamu!

You may also like